Sabtu, 21 Januari 2017

EDUTAINMENT LEARNING



Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan
Mengamati berbagai pemberitaan baik dari surat kabar maupun secara online tentang pendidikan saat ini ada rasa kecewa yang muncul dalam hati saya, sebagai seorang yang bergelut dengan dunia pendidikan rasa gelisah menyeruak di hati, dan selalu muncul pertanyaan dalam benak saya : “ bagaimanakah sebenarnya proses pendidikan yang harus diterapkan di indonesia”??? karena hingga saat ini berbagai teori, kritik serta saran telah dihadirkan demi mencari solusi yang solutif bagi perbaikan dan perkembangan pendidikan yang lebih baik demi masa depan Indonesia.
Hal pertama yang harus diperhatikan untuk menganalisis suatu permasalahan adalah dengan mengamati akar masalah atau filsafat yang mendasarinya. Pendidikan di indonesia masih tergolong pendidikan klasik, dengan paradigma pemikiran Nativisme yang cenderung memberikan porsi besar kepada guru dalam proses pembelajaran atau teacher centered learn. Perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru ( teacher centered learn ) menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik ( student centered learn ) menuntut pembelajaran didesain secara menyenangkan, perubahan paradigma ini adalah hasil dari runtuhnya teori tabula rasa John Locke yang mengatakan bahwa peserta didik seperti kertas kosong atau seperti botol kosong yang siap di isi dengan pengetahuan oleh sang guru. Ada kepingan yang hilang dalam proses pembelajaran yang terpusat pada guru yaitu hilangnya aspek hiburan yang menyenangkan, sehingga proses pembelajaran berjalan kaku, membosankan, tak sedikit pun terlihat senyum antusias peserta didik selama proses pembelajaran. Guru masih terkurung dalam paradigma bahwa ketika dia mengajar maka otomatis peserta didik akan belajar, guru kurang memperhatikan jiwa dari peserta didik dalam ruang belajar, bagi mereka yang terpenting adalah tercapainya ketuntasan kurikulum sebagai target profesionalitas, tentu ini tidak seluruhnya benar namun fakta itu tidak dapat di pungkiri, dan sudah seharusnya dirubah.  
Angin segar tentang perkembangan pendidikan semakin terlihat dengan temuan-temuan tentang teori tentang potensi manusia. Penemuan-penemuan mutakhir tentang potensi otak manusia menyimpulkan bahwa otak manusia akan bekerja semakin aktif jika kondisi seseorang merasa nyaman, tanpa tekanan dan beban. Salah satu teori yang muncul misalnya teori Triune ( 3 in 1 ) yang membagi otak manusia menjadi 3 bagian yaitu otak batang ( reptil ), otak mamalia, serta bagian neokorteks. Masing- masing bagian ini mempunyai fungsi yang berbeda, otak reptil berfungsi untuk Mempertahankan kelangsungan hidup, Menentukan untuk menghadapi ancaman atau lari, jika informasi selama kegiatan pembelajaran hanya masuk pada bagian otak ini maka peserta didik cenderung menutup diri, tidak mau ikut aktif dalam proses, bahkan mereka sering membuat onar mengganggu teman, hal itu karena informasi yang diterima tidak diteruskan ke bagian neokorteks sebagai pusat kecerdasan, tapi hanya masuk dibagian otak batang atau reptil. lalu otak mamalia, merupan bagian otak yang Berfungsi untuk mengatur emosi atau perasaan, Mengatur bioritmik ( yaitu rasa lapar, haus ), Sistem kekebalan, bagian otak ini miskin kreatifas, berfungsi pula untuk menerima semua informasi, jika infomasi yang diterima terasa tidak nyaman maka akan dimasukkan ke dalam bagian batang atau otak reptil, sedangkan jika informasi terasa menyenangkan maka akan dialirkan kebagian neokorteks. Bagian yang terakhir adalah bagian neokorteks, merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai pusat berfikir cerdas, otak ini mengatur segala bentuk kreatifitas berfikir manusia, jika informasi yang diterima sampai pada bagian ini maka peserta didik akan dengan mudah mengikuti pembelajaran, dan hasilnya akan semakin maksimal.
Konklusi dari teori otak Triune adalah bahwa jika seorang peserta didik merasa nyaman, dan senang dalam proses pembelajaran maka dia akan bisa dengan mudah menyerap materi pembelajaran yang diberikan. Lalu bagaimanakah cara untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik merasa nyaman, dan prestasi mereka bisa melejit???
Salah satu cara untuk melejitkan prestasi peserta didik adalah dengan mengaplikasikan teori Quantum dalam proses pembelajaran, atau Quantum Learning. Era Quantum telah merambah kesegala sisi kehidupan, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan, sehingga muncul teori Quantum Learning yang menghendaki lompatan-lompatan yang dilakukan dalam pendidikan oleh peserta didik. Pada Era Quantum inilah muncul berbagai teori pembelajaran yang menyenangkan dan diharapkan mampu memberikan hasil yang maksimal. Ada tiga langkah yang bisa dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan diantaranya yaitu :
Pertama : Menciptakan ruang pembelajaran yang nyaman, langkah ini dapat dilakukan dengan menambahkan poster-poster atau gambar-gambar yang relevan sesuai dengan tema pembelajaran, poster-poster berwarna akan membangkitkan  bakat dan minat peserta didik dalam proses pembelajaran.
Kedua : Membunyikan musik, karena musik terbukti bisa meningkatkan kosentrasi dari peserta didik, hal ini karena otak manusia terbagi menjadi dua yaitu otak kanan dan otak kiri, kedua otak ini sama-sama aktif ketika sehingga saling saling berebut, otak kiri yang berfungsi untuk berfikir logis sering diganggu otak kanan, dan musik bisa menjadikan otak kanan sibuk tanpa harus mengganggu otak kiri untuk konsentrasi.
Ketiga : Menggunakan humor, penggunaan humor ini dapat dilakukan pada saat peserta didik telah mulai kelelahan. Walau pun tidak semua pendidik mempunyai sense of humor namun pendidik bisa berlatih agar bisa mempunyai keterampilan mengajar agar peserta didik dapat belajar dengan suasana menyenangkan, sehingga mereka akan semakin menikmati proses pembelajaran, dan dapat mencapai target yang diinginkan.
Setidaknya dengan ketiga cara tersebut diatas dapat menemukan lalu membangkitkan potensi setiap peserta didik dalam proses pembelajaran, mereka pun akan semakin nyaman dan senang dalam proses pembelajaran sehingga akan tercipta pembelajaran yang penuh arti ( meaningful learning), karena setiap anak istimewa dengan potensi dalam diri mereka.

Jumat, 20 Januari 2017

GURU IDEAL



SANG GURU
Kekerasan kepada anak gencar mewarnai pemberitaan media saat ini, yang paling mengejutkan adalah kekerasan tersebut banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anak seperti orang tua, kerabat, bahkan seorang guru. Ini tentu menimbulkan dilema karena ketika seorang guru yang dianggap sosok yang mampu memberikan keteladanan, malah menjadi monster yang setiap saat dapat membahayakan jiwa seorang anak. Kata guru mengandung nilai filosofis yang dalam yaitu seorang yang di gugu ( didengarkan ) dan di tiru ( dicontoh ).
Seorang guru adalah sosok yang di gugu ( didengarkan ) oleh peserta didik, aspek ini mengisyaratkan bahwa pribadi seorang guru harus menjadi pengayom sehingga mampu memberikan sugesti kepada peserta didik untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang guru, selain itu aspek lain yang terkandung dalam kata di gugu adalah adanya komunikasi aktif antara peserta didik dan guru tersebut sehingga peserta didik merasa dihargai atas pendapat-pendapat mereka dan mereka pun akan mendengarkan pengarahan dari sang guru ketika melakukan kesalahan. Lalu kata kedua yaitu di tiru ( dicontoh ), ini mengisyaratkan bahwa sosok seorang guru adalah sebagai model ideal bagi peserta didik. Seorang guru tidak hanya berkewajiban untuk menyampaikan berjuta materi tentang teori tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan, namun tugas seorang guru adalah memberikan keseimbangan antara teori dan praktek nyata dalam kehidupan sehingga peserta didik menemukan contoh ideal dalam proses pembelajaran serta dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya ini sangat sulit mengingat muatan materi pembelajaran di Indonesia yang begitu banyak, namun hal itu bukan tidak mungkin untuk di capai.
Ki Hadjar menerangkan tentang trilogi sifat guru dalam proses pembelajaran yang pertama yaitu ing ngarso sung tulada, seorang guru adalah seorang pemimpin yang memberikan contoh ( tulada ) ketika mereka berada di depan peserta didik, memimpin dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan, tidak hanya memberikan instruksi tapi juga melaksanakan instruksi tersebut. Lalu yang kedua ing madyo mangun karso, seorang guru adalah relasi atau patner bagi peserta didik, yaitu ketika berada ditengah-tengah bersama peserta didik. Tugas seorang relasi adalah bekerja sama, bahu membahu, jadi tugas seorang guru adalah membangun komunikasi aktif sebagai relasi atau patner bagi peserta didik sehingga peserta didik mendapatkan eksistensi mereka dalam proses pembelajaran, mereka pun merasa dihargai keberadaannya dan yang terakhir adalah tut wuri handayani, seorang guru adalah seorang motivator bagi peserta didik yaitu ketika seorang guru berada dibelakang peserta didik, mereka menjadi pendorong bagi peserta didik untuk terus belajar, dan selalu berkarya, seorang guru tidak hanya hadir ketika peserta didik menggapai keberhasilan, namun lebih penting kehadiran mereka ketika peserta didik mengalami kegagalan dalam proses pembelajaran, di sinilah peran seorang guru sebagai motivator dalam pembelajaran. Seorang guru harus hadir untuk membangun kembali kepercayaan diri peserta didik sehingga mereka bisa kembali berprestasi.
Mengutip pernyataan Ahmad Dahlan bahwa yang diperlukan bagi setiap manusia adalah sifat menjadi guru dan sifat menjadi murid. Dengan arti bahwa dalam pendidikan harus didasarkan pada komunikasi aktif antara guru dan peserta didik, keduanya harus saling belajar dalam proses pendidikan, seorang guru harus menyadari bahwa dirinya bukanlah sosok yang selalu benar sehingga mengganggap peserta didik adalah pihak yang harus menuruti semua kemauannya, begitu juga peserta didik harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu diharapkan seorang guru mampu menyadari tugas mulia yang dibebankan kepada mereka sebagai sosok yang menentukan kehidupan masa depan bangsa, karena ditangan merekalah diserahkan generasi penerus bangsa.

PENDIDIKAN YANG NGE-WONG-KE



PEMBELAJARAN YANG NGE-WONG-KE
Perubahan kata pengajaran menjadi pembelajaran merupakan akibat dari perubahan paradigma pendidikan di Indonesia dari teacher centered menjadi student centered. Akibatnya posisi peserta didik yang tidak hanya sebagai objek namun juga sebagai subjek yang aktif dan kreatif dalam proses pendidikan.
Dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang SisdikNas diterangkan bahwa Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Dasar pembelajaran adalah adanya interaksi aktif antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik mempunyai ruang untuk mengeluarkan ide-ide serta pendapatnya. Seperti yang dikatakan oleh Poulo Freire bahwa pendidikan adalah proses menghasilkan ide-ide baru, bukan mengkonsumsi ide-ide yang telah ada. Sedangkan pendidik bertugas untuk mengarahkan serta memberikan tambahan-tambahan yang diperlukan, mengingat secara emosi peserta didik masih terbilang labil.
Banyak ahli yang menyakini bahwa tindakan-tindakan menyimpang dari peserta didik adalah karena mereka kurang mendapatkan ruang untuk berekspresi. Mereka kurang di-wong-ke sehingga melampiaskan kepada tindakan-tindakan yang cenderung negatif bahkan tidak sedikit yang berujung pada tindak kriminal. Tentu hal ini tidak kita inginkan. Karena jika keadaan ini terus berlanjut maka dengan kata lain sekolah/madrasah telah menjadi tempat-tempat menyeramkan yang menghasilkan martir-martir seperti bom waktu dan siap meledak kapan saja dan dimana saja.
Komunikasi Positif-Dialogis
Langkah pertama dalam proses nge-wong-ke peserta didik adalah dengan membuka komunikasi positif. Komunikasi positif adalah komunikasi yang sarat dengan motivasi dan bersifat membangun baik verbal maupun non verbal seperti gestur dan lainnya. Dengan komunikasi positif maka pendidik akan mampu memberikan energi positif kepada peserta didik, misalnya dengan mengganti kata “tidak bisa” dengan “belum bisa” atau “tidak tahu” dengan “belum tahu” dll. Atau pun dengan gestur misalnya memberikan acungan jempol dan tepuk tangan ketika peserta didik berhasil mengerjakan tugas yang diberikan. Dan ketika komunikasi sudah terbangun positif maka tugas pendidik disetiap akhir proses pembelajaran adalah memberikan pengarahan, penguatan atau pun penghargaan.
Langkah selanjutnya adalah komunikasi yang dialogis, yaitu komunikasi yang berjalan dua arah antara pendidik dan peserta didik. Pendidik adalah sosok yang terbuka dan pengayom bagi peserta didik, hal ini memang yang dikehendaki dari K-13 dengan pendekatan saintifiknya. Dengan komunikasi positif dan dialogis maka akan tercipta kondisi lingkungan yang saling menghargai yang berazas pada egaliter.
Membuat Catatan
Selain dalam ruang pembelajaran pemantauan dan pengarahan juga perlu dilakukan di luar ruangan. Mengingat peserta didik yang masih mementingkan ego seringkali muncul masalah antar peserta didik di luar kelas. Yang tak jarang pula berujung pada tindakan-tindakan negatif, seperti bullying atau tindak kekerasan. Untuk itulah seorang pendidik diharapkan memberikan pengarahan dan pemantauan kepada peserta didik selama berada di lingkungan sekolah.
K-13 menghendaki evaluasi berbeda dari pendidik. Selama ini evaluasi yang dilakukan adalah melalui pemberian latihan dan ujian, tidak begitu dengan K-13 yang menghendaki pendidik aktif dalam mengamati dan mencatat secara real time seluruh aktifitas peserta didik selama berada di lingkungan sekolah. Catatan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai laporan individu peserta didik kepada orang tua/wali. 
Dampak positif dari kegiatan pengamatan antara lain dapat menumbuhkan jiwa peneliti pada diri pendidik. Mereka akan aktif melakukan pengamatan terhadap peserta didik, sehingga mampu mengetahui potensi yang dimiliki setiap peserta didik. karena setiap peserta didik mempunyai potensi berbeda, masalah berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. pada tahap ini seorang guru layaknya seorang dokter yang memiliki pasien dengan keluhan berbeda-beda dan tentunya obat serta dosisnya pun berbeda. Dengan ikhtiyar tersebut semoga terwujud suatu pembelajaran yang nge-wong-ke setiap peserta didik.

PENDIDIKAN AKHLAK PADA REMAJA



REVITALISASI PENDIDIKAN AKHLAK PADA REMAJA
Makin merebaknya tindak kriminal remaja atau yang lebih dikenal dengan istilah khilthih menjadi salah satu indikasi ada missing link dalam proses pendidikan saat ini. Diterangkan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang SisdikNas bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam UU tersebut jelas bahwa proses pendidikan di Indonesia tidak hanya menekankan aspek kognitif (kecerdasan) namun juga aspek afektif (pengendalian diri, kepribadian serta akhlak mulia) dan kemampuan psikomotorik (keterampilan). Aspek afektif disebut 3 kali (pengendalian diri, kepribadian serta akhlak mulia), merupakan indikasi bahwa pemerintah sadar aspek afektif memang sangat penting untuk diwujudkan dalam pendidikan. Bahkan Nabi Muhammad SAW di utus ke dunia ini tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia. (inamal buisttu li utamimal makarimal akhlak). Oleh karena itulah sebagian ulama’ mengatakan bahwa mereka lebih membutuhkan adab jika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan secara umum (nahnu ila qoliili minal adab ahwaju minaa ila katsiri minal ilmi).
Remaja
Dalam ilmu psikologi remaja adalah fase dimana seseorang mengalami perkembangan fisik yang mendekati sempurna, semua organ dan hormon telah berkembang layaknya orang dewasa. Dengan kondisi fisik seperti ini mereka merasa sudah seperti orang dewasa. Mereka ingin dihargai, mereka merasa mampu melakukan apa yang orang dewasa lakukan. Namun karena kondisi psikis/jiwa mereka yang masih labil mereka sering ceroboh dalam melakukan sesuatu, sehingga sering terburu-buru dalam mengambil sebuah tindakan. Selain ingin dihargai remaja juga mendambakan kondisi yang ideal dan sempurna. Maka jika keberadaan mereka tidak dihargai atau ada kontradiksi antara idealisme yang mereka harapkan dengan realita yang terjadi mereka pun akan melakukan segala cara untuk merubah hal tersebut agar sesuai angan-angan mereka. Mereka mulai mencari dan bergabung dengan kelompok yang bisa menghargai mereka dan dapat mereka ajak untuk mewujudkan idealisme bersama. Jika pengarahan dan pengawasan keluarga, sekolah dan masyarakat lemah mereka pun akan melakukan penyimpangan, melanggar norma, moral bahkan hukum, seperti prostitusi dan tindak kriminal lain seperti kekerasan hingga pembunuhan. Dalam sejarah bangsa remaja di Indonesia adalah aktor penting terwujudnya kemerdekaan bangsa, mereka berkontribusi nyata terhadap persatuan dan kesatuan bangsa ini, misalnya peristiwa sumpah pemuda, peristiwa Rengas Dengklok dan masih banyak yang lain. Namun seiring perkembangannya para remaja seolah terbawa derasnya arus teknologi dan gaya hidup modern yang cenderung dehumanis, hedonis, materialistis dan anti sosial.
Tri Pusat Pendidikan
Imam al-Ghozali mengatakan bahwa akhlak adalah : keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tanpa membutuhkan pemikiran, atau secara spontan. Akhlak terbentuk dari pembiasan yang diulang terus menerus dalam kehidupan sehari-hari, hingga seseorang melakukan sesuatu secara reflek. Maka orang berakhlak baik dapat dilihat dari kesehariannya, begitu pula sebaliknya. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan yang diperlukan untuk mengangkat martabat bangsa. Untuk mewujudkannya lebih lanjut Ki Hadjar menerangkan pentingnya kerjasama dari tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga pilar ini harus memberikan bimbingan, pengarahan serta pengawasan terhadap perkembangan setiap anak hingga mereka dewasa. Keluarga sebagai tempat pertama bagi anak dalam membangun karakter harus memberikan kasih sayang, perhatian serta membangun komunikasi yang aktif-dialogis antar anggota keluarga, dan memilihkan sekolah yang cocok, lalu sekolah melanjutkannya dengan memberikan pengarahan, bimbingan, penambahan pengetahuan sekaligus mempraktekkannya dalam skala mikro melalui pembelajaran di ruang dan lingkungan sekolah. Dan masyarakat harus menjadi tempat yang positif bagi anak untuk mengimplementasikan pengetahuan mereka dalam skala makro, misalnya dengan mengaktifkan kembali kegiatan remaja masjid, atau karang taruna sehingga remaja bisa mengimplementasikan energi, pengetahuan dan idealisme yang mereka miliki dalam ruang yang positif, sehingga terbentuklah akhlak mulia pada diri mereka.

Senin, 18 Januari 2016

PENDIDIKAN ANTI BULLI



HILANGKAN BULLI DALAM PENDIDIKAN
Kekerasan dalam dunia pendidikan seakan tidak ada habisnya. Tidak hanya kekerasan fisik namun juga kekerasan secara psikis yang dapat menjadikan peserta didik kehilangan kepercayaan diri dalam kehidupan. Hal ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi seluruh stakehoulder yang mempunyai kepentingan dalam proses pendidikan. Hal yang semakin membuat kita miris adalah bahwasannya kasus demi kasus kekerasan yang terjadi tersebut dilakukan oleh mereka yang seharusnya memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi sang anak, seperti keluarga, kerabat bahkan sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling menyenangkan bagi seorang peserta didik telah berubah menjadi tempat paling menakutkan bagi mereka karena mereka tidak lagi mendapatkan kenyamanan dan rasa aman.
Semua fakta dilapangan telah mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang salah dan harus segera diperbaiki dalam proses pendidikan saat ini.
Bulli tidak hanya bersifat fisik, namun bulli secara psikis pun tak kalah berbahaya dalam memberikan efek kepada siswa. Melalui ucapan seorang guru bisa menyebabkan seorang siswa kehilangan kepercayaan diri.
Tahun ajaran baru merupakan tahun yang menyenangkan dalam proses pendidikan. Karena di tahun ajaran baru para peserta didik akan merasakan suasana sekolah baru, tempat duduk baru, teman-teman baru, dan akan memberikan pengalaman baru dalam proses pendidikan yang akan dijalankan. Namun sayangnya gambaran tentang pengalaman yang menyenangkan tersebut seketika akan hilang ketika peserta didik tersebut dihadapkan pada tahapan MOS ( masa orientasi siswa ) dimasing-masing sekolah. Sebenarnya tujuan dari MOS tidak lain hanya diperuntukan agar para peserta didik baru lebih mengenal tempat belajar mereka baik internal maupun eksternal. Namun dalam pelaksanaannya ada beberapa hal yang menyimpang dari tujuan itu, misalnya dengan semakin menjamurnya tradisi bully kepada peserta didik baru, hingga tidak sedikit yang menimbulkan kekerasan fisik hingga mengakibatkan hilangnya nyawa. Tentulah hal ini akan terus berlanjut ketika MOS tidak diarahkan kepada tujuan awal pelaksanaannya, karena peserta didik yang di bully pada saat MOS suatu saat nanti juga akan melakukan bully kepada juniornya, hal ini akan terus berputar dan menjadi lingkaran setan dalam pelaksanaan proses pendidikan. Pastinya kita tidak ingin melihat ataupun mendengar ada lagi nyawa peserta didik yang melayang sia-sia. Untuk itu ada baiknya kita bersama-sama kembali mengarahkan tujuan diadakannya MOS terhadap peserta didik. Adapun hal-hal penting dalam pelaksanaan MOS bagi peserta didik baru antara lain:
Pertama : kepala sekolah atau yang diberikan wewenang, bertanggung jawab untuk memberikan arahan kepada segenap jajaran guru maupun siswa ( terutama OSIS ) tentang tujuan dari pelaksanaan MOS tersebut.
Kedua : dewan guru atau yang berwenang wajib mengetahui rancangan kerja yang akan dilaksanakan dalam proses MOS, ini sebagai cara preventif jika terdapat agenda acara yang tidak sesuai dengan tujuan pelaksanaan MOS.
Ketiga : jajaran dewan guru wajib bahu membahu untuk selalu mengawasi pelaksanaan MOS tersebut. Tugas dari dewan guru ini hanyalah sebagai guru pendamping dalam pelaksanaan MOS dilapangan. Hal ini bukan berarti membatasi kreatifitas para pelaksana yang diemban oleh anggota OSIS, namun hal ini sebagai sebuah antisipasi tentang adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dilapangan.
Keempat : untuk para pelaksana ( OSIS beserta anggotanya ) hendaknya jangan terlalu memaksakan dalam pelaksanaan agenda acara MOS. Jika memang peserta didik baru tidak mampu untuk mengikuti setiap agenda acara, maka sebaiknya segera menyiapkan satu acara pengganti. Dan jika menemukan kendala yang tidak bisa diselesaikan segeralah meminta dewan guru atau yang berwenang untuk menyelesaikan kendala tersebut.